Tugas_1 TIK kelas 6

Tulis kembali artikel tersebut dengan menggunakan pengolah kata word (office word)dengan format sbb:

[Best_Wordpress_Gallery id=”23″ gal_title=”TUGAS TIK kelas 6″]

  1. Bentuk huruf Time New Roman ukuran 12
  2. Spasi 1,5
  3. Warna huruf seperti aslinya
  4. Margin normal
  5. Posisi/orientasi portrait
  6. Ukuran kertas A4
  7. Simpanlah file tugas dengan format : no. absen_nama siswa_kelas(A<B<C)_tugas ke…==> contoh: 1_Abidah_6A_tugas1
  8. Kirimkan hasil pekerjaanmu pada email berikut: iruhsyammami@yahoo.com
  9. Batas akhir pengumpulan tugas tgl. 13 Agustus 2015 pkl. 00.00 wib

 

Pemenang Muhammadiyah National Award & Conference 2015

[Best_Wordpress_Gallery id=”18″ gal_title=”Juara Me Award 2015″]

Alhamdulillah Juara lagi,..Muhammadiyah National Award & Conference 2015 yang diadakan oleh PW Muhammadiyah Jawa Timur di tempatkan di unmuh sidoarjo pada sabtu 2 Mei 2015 yang dihadiri ratusan bahkan ribuan Peserta dalam rangkah menggali potensi bibit unggul siswa SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya menyabet Juara sebagai berikut :

1. SALWA MAGHFIROH, KELAS 5-B Juara 1 Al-Islam in Arabic

2. RIZKITA ALISHA, KELAS 5-C Juara 2 Al-Islam in Arabic

3. ALMIRA KAYLA, KELAS 5-C Juara 2 Al-Islam in English

4. ELROND RAFSA, KELAS 5-B Juara 3 Al-Islam in English

5. QUEENESSIA PAVITA, KELAS 4-B Juara Special Award

 

 

Pawai Memperingati hari kartini 2015 SD Muhammadiyah 6 Gadung

[Best_Wordpress_Gallery id=”17″ gal_title=”kartini 2015″]

PAGI, Selasa 21 April 2015 langit yang begitu cerah, panas matahari melingkar dari arah timur, mesakipun seperti itu siswa SD Muhammadiyah 6 gadung memperingati peringatan kartini dan mengenang emansipasi dengan singkat cerita sebagai berikut kata siswa Kelas 5B ini :

“Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawanJawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau putri R.M. Sosroningrat dariistri pertama, tetapi bukan istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa.Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanyaadalah seorang wedana di Mayong.

Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai HajiSiti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara.Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikankedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalahanak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas.

Kakeknya,Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini,Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese LagereSchool). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun,ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Karena Kartini bisa berbahasaBelanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-temankorespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.Kata seorang guru menceritakan tentang buku tematik”

Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik padakemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yangrendah. Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuhPieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan).

Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie.Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di DeHollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu“.